Standing in Between - His Mind, His Soul and His Creature

{(When) motivation.(learn+think) + spirit = (+)change.continuous improvement}within 'limited,narrow,confined' framework "In the Name of Allâh, the Most Beneficent, the Most Merciful"

Name:
Location: Rotterdam, Zuid Holland, Netherlands

Tuesday, December 04, 2007

Mudah-mudahan Bukan Sebuah Bencana

Prihatin melihat pemberitaan luar negeri mengenai banjir di Jakarta, ibukota Indonesia, kota yang sering kita banggakan. Lebih miris lagi ketika ada komentar ahli terkait yang menganggap fenomena ini sebagai sesuatu hal yang biasa sebagaimana terjadi pada ribuan warga kota yang kini homeless akibat banjir. Lebih sedih lagi jika ada beberapa pihak memang terbiasa menikmati proyek bencana banjir seolah "hidup dari bencana", mungkin kalimat hidup diatas penderitaan orang lain seakan lebih tepat.

Saya bingung, lagi-lagi tak habis pikir, bangsa kita ini lebih bodoh dari pada keledai atau lebih dungu; atau saya saja yang sedang kesal di antara berjuta rakyat lainnya. Konon, seekor keledai tak akan pernah terperosok jatuh di lubang yang sama, sedangkan kita bukan tidak pernah, tetapi seringkali terperosok (atau dengan sengaja memerosokkan diri) justru di lubang yang sama. Sungguh kejadian yang sangat ironis bukan? Dengan bahasa yang lebih halus, kita tak pernah mau belajar dari pengalaman, kecuali harus mengalami lebih dahulu, meskipun itu pahit; Parahnya, itu pun belum tentu cukup menjadi pelajaran bahkan setelah beberapa kali mengalaminya.

Mengapa kita harus belajar dari A padahal A sampai Z bisa kita pelajari dari pengalaman orang lain, sehingga kita bisa memulai dari titik E, N atu Y? Keledai pun bisa menghindar dari lubang yang sama. Banyak sekali pengambil kebijakan kita berkesan tak bisa belajar dari pengalaman masa lalu (atau tidak mau belajar?) Dalam mengatasi akibat bencana, kita selalu seperti tergagap-gagap, seperti baru pertama kali mengalaminya, seperti salah tingkah, dan yang paling "istimewa" adalah hampir selalu saling melemparkan tanggung jawab kepada pihak lain, bahkan sering kepada "alam semesta" yang tak kuasa membela dengan kata.

Alam marah karena kita memanfaatkannya tanpa "cinta". Ruang hijau 'diperkosa' oleh bangunan beton, situ/rawa dianggap tak ekonomis lantas ditimbun menjadi daratan yang laku jual dan laris, bantaran sungai "diserbu" menjadi permukiman, sungai menjadi ciut dan dangkal; permukaan resapan air di perkotaan nyaris habis dilanda kepentingan bisnis (FYI, pusat perbelanjaan di Jakarta meningkat 20 kali lipat semenjak mantan Gubernur DKI Sutiyoso berkuasa, dibandingkan dengan periode kepemimpinan Gubernur DKI sebelumnya - source: urbanpoor.co.id)

Seperti yang kita tahu, lagi-lagi masyarakat dibawah kita yang tetap merasakan ketidakadilan bencana tahunan ini. Karena banjir, banyak jiwa harus mengungsi, penderitaan semakin lengkap karena penyakit mulai dari diare, flu, batuk, radang sendi, ISPA, gatal-gatal, demam berdarah dan leptospirosis menjadi 'subyek pelengkap penderita'.

Kalau mau beranalogi, air itu itu biasa dipakai saat mandi untuk membersihkan badan, banjir yang melanda jakarta pun demikian, selain untuk membersihkan Jakarta dari sampah-sampah yang berserakan di jalan, juga berguna untuk membersihkan sampah-sampah masyarakat.

Sudahlah, saya tidak ingin menularkan energi negatif lebih jauh lepas subuh hari ini, masih banyak hal lain yang harus dipikirkan. Dalam hati tetap tidak bisa mengakui, bangsa kita bukan bangsa keledai.

[QS. 30:21] ...Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berpikir.

Labels: , ,

3 Comments:

Anonymous Anonymous said...

vote for greenpeace!

yeah!

9:57 AM  
Blogger Unknown said...

what ironic is, we're all talking stuffs about 'save our earth' etc. since years ago. But what? does anything change? I don't think so. (well it is actually...change into something what they called 'worse')

Apa kita semua saling menunggu dan berpikir 'someone's gotta start making change sooner or later', but did we ever think to be that 'someone'?
so, who are we waiting for? what are we waiting for?


http://oppie.blogs.friendster.com/my_blog/2007/01/the_old_tired_e.html

3:42 AM  
Blogger binsar pakpahan said...

rumah kebanjiran ya rif? hahaha... memang orang jakarta tuh pelupa, kalo banjir udah lewat, ga ada lagi deh tuh yang mengeluh, padahal akan tetap sama masalahnya tahun depan: banjir lagi! dan itu banjir kanal timur ga selesai2. padahal kita bisa naik perahu nanti ya rif, dari rumahmu ke tmpt gw di duren sawit hahahaha

10:16 AM  

Post a Comment

Subscribe to Post Comments [Atom]

<< Home