Disastrous Game at Wembley
Inggris dipastikan tidak lolos ke putaran final piala Eropa 2008 yang akan diselenggarakan di Austria dan Swiss. Kenyataan ini menjadi semakin pahit setelah Rusia memastikan dirinya menang 1-0 atas tuan rumah Andorra melaui gol Sychev di menit 39.
Sebagai salah satu fans Inggris, menerima fakta bahwa tim legendaris dunia kalah dan tidak lolos ke salah satu perhelatan elite sepakbola dunia adalah hal yang sulit. At least, senyum saya tidak mengembang, dimulai sejak gol ketiga Kroasia sampai peluit tanda akhir babak kedua dibunyikan. Senyum yang tidak mengembang itu ternyata memiliki dampak yang tidak baik terhadap kondisi psikologis, yang lebih parah lagi, karena tidak tersenyum, secara tidak sadar saya menularkan energi negatif ke lingkungan sekitar, dua orang teman yang kebetulan ikut menyaksikan kejatuhan Inggris, jadi tidak bersemangat lagi untuk beraktivitas, ah.. mereka juga tidak tersenyum... .
Rupanya, kekalahan tidak saja menjadi milik Inggris, tapi juga milik saya. Rasa penolakan terhadap fakta tidak lolosnya Inggris, sejenak berada diatas sikap ikhlas dan keyakinan bahwa manusia berusaha, Allah yang Menentukan. Astagfirullahaladzim...
Manusia memang tempatnya lupa dan salah, untuk menjadi lebih baik, belajar dari suatu kesalahan dan kekalahan adalah hal mutlak untuk dilakukan. Setelah kejadian ini ada beberapa hal penting yang saya catat:
Pertama, persaingan positif. Kompetisi adalah bagian dari rahmat Allah bahwa manusia harus berikhtiar berlomba-lomba menjadi dan mendapatkan yang terbaik. Kalau mental manusia lemah, ada kecenderungan untuk menghindari kompetisi atau persaingan. Kalau kita kalah dalam persaingan, itulah obat mujarab untuk motivasi. Bukan untuk membenci atau membalas competitor, melainkan pesaing itu menjadi inspirasi bagi kita, objek pembelajaran.
Kedua, tentang tawadu. Sah - sah saja motivasi menggelora untuk menjadi yang terbaik, tetapi hati harus tetap tunduk dalam zona kerendahan sikap. Sombong itu adalah bumbu yang menjadi racun bagi motivasi. Satu tingkat setelah sombong adalah takabur dan akhirnya kita pun terbujur dalam kubur tanpa syukur. Naudzubillahi min dzalik. Tetaplah yang terbaik itu "ilmu padi" makin berisi makin merunduk.
Ketiga, menurut saya, kemenangan sejati bukanlah kemenangan atas orang lain. Namun, kemenangan atas diri sendiri. Bertanding 'dilapangan keberhasilan diri' adalah perjuangan untuk mengalahkan rasa ketakutan, keengganan, keangkuhan, dan semua beban yang menambat diri di tempat start.
Keempat, senyum dan senyumlah! Seperti flu burung senyum itu menular, dan memang benar. Sesekali, lihatlah wajah seseorang yang tersenyum kepada kita. Meskipun kita tidak mengenalnya, kita akan terpancing untuk ikut tersenyum dan ikut tertular energi positifnya. Menurut Mary Marcdanter, pengarang buku Living with Enthusiasm, orang-orang yang dapat tersenyum selama 16 detik atau lebih lama akan merasa lebih positif dibanding dengan orang-orang yang tidak melakukannya. Dengan begitu, kita akan merasa lebih senang dalam waktu kurang dari 1 menit. Cool!
Kelima, memakai akal sehat kalau meonton tim sepakbola kebanggaan kita sedang bertanding, sehingga efek dari kekalahan bisa diminimalisir. Lagipula, kesetiaan pada suatu tim nasional itu tidak ada apa-apanya dibandingkan kesetiaan pada Allah dan RasulNya. Seperti doa iftitah yang kita baca setiap shalat; “sesungguhnya sholatku, ibadahku, hidupku, dan matiku adalah untuk Allah Tuhan semesta alam.”
Kegagalan dapat dibagi menjadi dua sebab. Yakni, orang yang berfikir tapi tidak pernah bertindak, dan orang yang bertindak tapi tidak pernah berfikir (W. A. Nance)
Sebagai salah satu fans Inggris, menerima fakta bahwa tim legendaris dunia kalah dan tidak lolos ke salah satu perhelatan elite sepakbola dunia adalah hal yang sulit. At least, senyum saya tidak mengembang, dimulai sejak gol ketiga Kroasia sampai peluit tanda akhir babak kedua dibunyikan. Senyum yang tidak mengembang itu ternyata memiliki dampak yang tidak baik terhadap kondisi psikologis, yang lebih parah lagi, karena tidak tersenyum, secara tidak sadar saya menularkan energi negatif ke lingkungan sekitar, dua orang teman yang kebetulan ikut menyaksikan kejatuhan Inggris, jadi tidak bersemangat lagi untuk beraktivitas, ah.. mereka juga tidak tersenyum... .
Rupanya, kekalahan tidak saja menjadi milik Inggris, tapi juga milik saya. Rasa penolakan terhadap fakta tidak lolosnya Inggris, sejenak berada diatas sikap ikhlas dan keyakinan bahwa manusia berusaha, Allah yang Menentukan. Astagfirullahaladzim...
Manusia memang tempatnya lupa dan salah, untuk menjadi lebih baik, belajar dari suatu kesalahan dan kekalahan adalah hal mutlak untuk dilakukan. Setelah kejadian ini ada beberapa hal penting yang saya catat:
Pertama, persaingan positif. Kompetisi adalah bagian dari rahmat Allah bahwa manusia harus berikhtiar berlomba-lomba menjadi dan mendapatkan yang terbaik. Kalau mental manusia lemah, ada kecenderungan untuk menghindari kompetisi atau persaingan. Kalau kita kalah dalam persaingan, itulah obat mujarab untuk motivasi. Bukan untuk membenci atau membalas competitor, melainkan pesaing itu menjadi inspirasi bagi kita, objek pembelajaran.
Kedua, tentang tawadu. Sah - sah saja motivasi menggelora untuk menjadi yang terbaik, tetapi hati harus tetap tunduk dalam zona kerendahan sikap. Sombong itu adalah bumbu yang menjadi racun bagi motivasi. Satu tingkat setelah sombong adalah takabur dan akhirnya kita pun terbujur dalam kubur tanpa syukur. Naudzubillahi min dzalik. Tetaplah yang terbaik itu "ilmu padi" makin berisi makin merunduk.
Ketiga, menurut saya, kemenangan sejati bukanlah kemenangan atas orang lain. Namun, kemenangan atas diri sendiri. Bertanding 'dilapangan keberhasilan diri' adalah perjuangan untuk mengalahkan rasa ketakutan, keengganan, keangkuhan, dan semua beban yang menambat diri di tempat start.
Keempat, senyum dan senyumlah! Seperti flu burung senyum itu menular, dan memang benar. Sesekali, lihatlah wajah seseorang yang tersenyum kepada kita. Meskipun kita tidak mengenalnya, kita akan terpancing untuk ikut tersenyum dan ikut tertular energi positifnya. Menurut Mary Marcdanter, pengarang buku Living with Enthusiasm, orang-orang yang dapat tersenyum selama 16 detik atau lebih lama akan merasa lebih positif dibanding dengan orang-orang yang tidak melakukannya. Dengan begitu, kita akan merasa lebih senang dalam waktu kurang dari 1 menit. Cool!
Kelima, memakai akal sehat kalau meonton tim sepakbola kebanggaan kita sedang bertanding, sehingga efek dari kekalahan bisa diminimalisir. Lagipula, kesetiaan pada suatu tim nasional itu tidak ada apa-apanya dibandingkan kesetiaan pada Allah dan RasulNya. Seperti doa iftitah yang kita baca setiap shalat; “sesungguhnya sholatku, ibadahku, hidupku, dan matiku adalah untuk Allah Tuhan semesta alam.”
Kegagalan dapat dibagi menjadi dua sebab. Yakni, orang yang berfikir tapi tidak pernah bertindak, dan orang yang bertindak tapi tidak pernah berfikir (W. A. Nance)

0 Comments:
Post a Comment
Subscribe to Post Comments [Atom]
<< Home