Standing in Between - His Mind, His Soul and His Creature

{(When) motivation.(learn+think) + spirit = (+)change.continuous improvement}within 'limited,narrow,confined' framework "In the Name of Allâh, the Most Beneficent, the Most Merciful"

Name:
Location: Rotterdam, Zuid Holland, Netherlands

Tuesday, October 02, 2007

Huwelijksverjaardag Jubileum

Kemarin, tanggal 1 Oktober 2007, genap 25 tahun Ayah dan Ibu saya menikah. Sebuah angka yang belum apa-apa bagi banyak pasangan luar biasa. Kakek dan Nenek teman saya bahkan ada yang baru saja merayakan ‘kawin emas’ 50 tahun di Sukabumi dua bulan yang lalu, atau mungkin siapanya-siapa mungkin lebih. Buat mereka, pencapaian pernikahan 25 tahun tentu cuma pencapaian para pemula.

Bagi saya pribadi, 25 tahun pernikahan adalah karunia besar. Di generasi kami, tak banyak yang mampu melewati waktu sependek itu secara mulus. Sejumlah orang yang saya kenal baik, gagal melanjutkan pernikahannya. Alasannya beragam. Padahal, banyak di antara mereka yang berpendidikan tinggi. Kadang pengetahuan agamanya juga tak diragukan. Saya jadi berpikir, kenapa bisa begitu?

Sesekali saya berpikir dan berdiskusi dengan beberapa teman. Sampai saat ini saya masih percaya: Penyebab tersering perceraian adalah selingkuh. Ketika salah satu pihak mulai mencederai komitmen awalnya dan berselingkuh, goyahlah sendi-sendi keluarga. Terutama bila selingkuh itu telah diwarnai hubungan seksual. Lewat pernikahan diam-diam, apalagi zina.

Tidak sedikit orang berselingkuh dan tidak merasa berdosa karena tidak berzina. “Kan cuma ‘curhat’, atau makan bareng,” kilahnya. Tapi, sulit bagi penyelingkuh buat menyangkal bahwa curhat itu adalah kerikil yang ia tabur sendiri ke tengah jalan perkawinannya. Seolah melegitimasi bahwa selingkuh itu adalah hal yang wajar.

Kalau saya amati, sebenarnya ada tiga model pasangan yang statusnya ‘berkeluarga’:
Model pertama adalah pasangan yang memandang penyebab runtuhnya perkawinan itu adalah sebuah hal yang sepele: “Sudah nggak cocok lagi!” Begitu ringan kalimat itu diucapkannya. Pasangan demikian, mungkin sangat berpengalaman berganti-ganti pacar sebelum menikah. Tren yang dulu dan bahkan sampai saat ini, empat-lima kali ganti pacar sebelum menikah itu dipandang sebagai suatu hal yang biasa. Dalam pacaran, kalau ada masalah putus saja. Ngapain pusing. Kebiasaan ini dibawa ke perkawinan. Buat mereka pernikahan begitu kasual: toh banyak yang saat menikah sudah tak perjaka dan perawan. Pernikahan cuma ‘beberapa sentimeter’ lebih sakral ketimbang pacaran.
Tapi, tak semua pasangan ‘nggak cocok’ memilih berpisah.

Nah, model kedua yaitu pasangan yang memilih mempertahankan pernikahannya. “Awet rajet,” kata orang Sunda bilang. Bertengkar melulu tapi terus bertahan. Alasannya beragam. Misalnya, untuk kebaikan anak. Model pasangan begini, tentunya akan sibuk mendaftar kesalahan pasangannya sendiri. Kita cenderung menudingnya tak bertanggung jawab pada anak.

Orang bilang bahwa pasangan hidup, sedikit banyak, adalah cermin diri sendiri. Jika nilai rapor pasangan kita menurut penilaian kita sendiri itu merah, hampir pasti merah pula nilai rapor kita. Kita tak lebih baik dari pasangan kita. Mengapa kita tak memperbaiki diri sendiri saja dulu? Biarkan ia memperbaiki dirinya sendiri pula. Mengapa kita terus menjadikan anak sebagai ’senjata’ buat menghadapi pasangan sendiri?

Model ketiga adalah model dimana posisi suami di keluarga sangat dominan. Ketika ekonomi keluarga kian mapan, dan ikatan suami-istri tak lagi terbungai perasaan berdebar-debar, suami pun membidikkan mata dan hati pada perempuan lain. Berzina jelas haram. Solusinya adalah pernikahan. Istri dengan istri dipersandingkan. Tak penting bagaimana perasaan istri yang dulu seperti dijanjikan menjadi ratu keluarga sepanjang usia. Tak penting pula bagaimana perasan anak-anak, meskipun mereka merasa malu atas langkah ayahnya. Laki-laki demikian umumnya punya kemampuan untuk membuat istri dan anak-anaknya terdiam.

Beberapa waktu yang lalu teman saya yang sudah menikah bercerita, bagi saya ceritanya adalah sebuah tips kehidupan. Pesta pernikahan itu sebaiknya dilakukan sederhana saja. Dia merasa tidak sepantasnya bila awal perjalanan dipestakan megah. Isilah pernikahan dengan langkah-langkah sederhana. Misalnya, untuk sama sekali tidak pernah meninggikan suara karena hanya akan saling melukai.

Juga untuk tidak mengatakan “saya kan sudah berkorban …” karena pernyataan itu sebenarnya lebih merupakan ekspresi menuntut dibanding sungguh-sungguh berkorban (atau mungkin berkorban tapi kurang ikhlas). Saling mendoakan kata teman saya juga penting, katanya untuk menjaga langkah disamping juga menyemangati agar membuat semua anggota keluarga lain dapat berjalan ‘tegak’.

Saya jadi merenung sesaat, sungguh 25 tahun menikah itu merupakan karunia luar biasa. Sebuah kenyamanan yang mencetuskan tanya pada diri saya: “Mengapa pada banyak orang melakukan hal sederhana untuk menjaga pernikahan mereka tetap utuh saja tidak bisa? Apa sulitnya?” Untuk saat ini sayapun sedang mencari jawabannya. Ayah dan Ibu saya memberikan tips lewat sms ketika saya tanya mengenai hal ini, jawaban Ibu cukup singkat: Let your love be stronger than your hate or anger. Sedangkan Ayah saya berpendapat bahwa resep sukses dua puluh lima tahun menikah adalah sabar, pengertian dan sikap respek satu dengan yang lain karena pernikahan adalah fakultas kesabaran dari universitas kehidupan. Jika ingin menjadi orang yang sabar, maka masukilah dunia pernikahan.Karena di dalam mengarunginya kita harus menyiapkan segudang persediaan memaafkan dan meminta maaf....

Labels: , ,

1 Comments:

Blogger binsar pakpahan said...

Ya...

Cuma makan bareng atau curhat?? hahahha... bener banget man!
Artikel dan refleksi yang bagus!
Cuma gw masih ga setuju ada korelasi antara ganti pacar waktu pacaran sama isteri. menurut gw orang yang melakukannya justru orang yang merasa pasangannya tidak seperti yang dia harapkan dan institusi perkawinan dipandang hanya sebagai sarana membuat kawin itu legal. dan alasan lainnya... dan lainnya... dan lainnya... banyak deh... dan juga sangsi sosial masyarakat juga sudah semakin kurang sekarang. perceraian bagaikan normal... sigh...

7:18 AM  

Post a Comment

Subscribe to Post Comments [Atom]

<< Home