Standing in Between - His Mind, His Soul and His Creature

{(When) motivation.(learn+think) + spirit = (+)change.continuous improvement}within 'limited,narrow,confined' framework "In the Name of Allâh, the Most Beneficent, the Most Merciful"

Name:
Location: Rotterdam, Zuid Holland, Netherlands

Friday, September 28, 2007

Operasi Permak Wajah

Judul diatas jangan diartikan kalau posting kali ini akan membahas masalah seputar operasi bedah plastik yang lazim dilakukan oleh dokter spesialis kulit (SpBP)yang bertujuan untuk merekonstruksi atau memperbaiki bagian tubuh manusia melalui operasi kedokteran. Perumpamaan ini saya gunakan hanya untuk menggambarkan betapa pesimisnya saya akan pulihnya sistem ekonomi dan mekanisme penegakan hukum di Indonesia. Baru-baru ini rasa kaget saya ditimbulkan oleh berita bahwa Bank Indonesia menggelontorkan Rp.100 miliar pada tahun 2003 untuk menyemir citra bank sentral kebanggaan kita, yang coreng-moreng oleh kasus bantuan likuiditas bank Indonesia (BLBI). Sekitar Rp. 31,5 miliar dialirkan kepada anggota Dewan (yang terhormat) di senayan, untuk menjaga kepentingan BI di senayan. Rp. 42,7 miliar dipakai untuk membayar jasa pengacara, dan sisanya mengalir ke kantong pakar hukum hingga pengacara. (source: Tempo, No. 28/XXXVI/3-9 September 2007)

Kalau kita kembali pada perumpamaan diatas, dana 31,5 miliar rupiah itu bisa dikategorikan sebagai bagian dari proyek pemolesan citra BI. Reputasi bank sentral tercemar setelah sejumlah petingginya disidangkan dalam kasus dugaan korupsi BLBI.

DPR-pun tampaknya masih belum berubah, karena menurut BPK, dana besar itu, juga bertujuan untuk menjaga kepentingan BI dalam pembahasan amandemen UU Bank Indonesia dan penyelesaian BLBI.

Harapan saya yang pertama tersandar kepada Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) dengan langkahnya untuk memeriksa sejumlah pejabat di bank sentral. Hal ini sekali lagi diharapkan mampu membuka kasus ini lebih terang-benderang. Selanjutnya pemeriksaan tentu akan tiba pada nama-nama besar yang menyimpan banyak misteri dalam kasus ini. Semua petinggi bank sentral tentu harus siap menghadapi jagoan KPK tanpa harus sibuk berpikir untuk pergi ke 'dokter SpKK ato SpBP' untuk memikirkan bagaimana wajah mereka akan dipermak.

Saya jadi ingat, Mochtar Lubis penah menulis dalam sebuah buku tentang karakter politikus Indonesia. Dia menyebutkan bahwa satu diantara karakter politikus manusia indonesia ada yang bermuka badak dan ada yang tidak bermuka badak. Jujur saya kurang paham waktu itu, karena tidak bisa membayangkan langsung manusia bermuka badak. Setelah semakin dewasa, sayapun semakin memahami bahwa sebagian manusia Indonesia memang betul bermuka badak,dan tidak punya malu.

Segala macam derita tunjangan dan penderitaan dihadapi dengan sabar oleh rakyat. Sebaliknya segala macam fasilitas sudah dan sedang digapai oleh sebagian anggota DPR, mulai dari kulkas, meubel, TV, rumah, komputer di kantor sampai tunjangan kongko-kongko.

Namun bagi sebagian rakyat yang cinta wakilnya di DPR yang juga menaruh kepercayaan tinggi bahwa BI adalah bank yang independen menjalankan tugas berat menjaga sistem moneter Indonesia mungkin akan bertanya-tanya dan bingung nanti apakah uang yang disalurkan itu berasal dari uang rakyat? Saya kira sebagian rakyat masih percaya uang itu tidak dipergunakan buat kegiatan yang 'aneh-aneh' yang memalukan anggota dewan yang mulia dan bank sentral.

Kalaupun akhirnya dana itu memang digunakan untuk memoles citra bank kebanggaan kita, saya pribadi ikhlas, toh itu untuk kebaikan Indonesia juga di mata dunia, yang akhirnya (semoga) kembali pada kesejahteraan masyarakat banyak juga dan dibalik rasa pesimis, masih ada sedikit rasa optimis, semoga operasi permak wajah di tahun 2003 tidak merubah 'wajah-wajah' mereka menjadi 'wajah badak' ketika menemui rakyatnya yang menunggu penjelasan dengan penuh harap suatu saat nanti.

Dari seorang rakyat yang masih berharap,
Lepas subuh di Rotterdam

Labels: , ,

0 Comments:

Post a Comment

Subscribe to Post Comments [Atom]

<< Home