Ketika Idul Fitri Datang Menghampiri, Bagaimana Perasaanmu?
Bagi saya, semuanya tergantung dari kualitas ibadah di Bulan Ramadhan. Kalau Ramadhan saya berantakan, Idul Fitri bagi saya hanyalah sebuah hari yang tidak berbeda dengan hari lainnya dalam satu tahun, lebih jauh lagi, hal itu bisa diartikan sebagai sebuah kesedihan dan penyesalan. Jika bulan Ramadhan saya lalui dengan kualitas yang biasa-biasa saja, di hari kemenangan, saya sedih karena gelisah dan khawatir, apakah saya bisa menemui Ramadhan lagi tahun depan, saya sedih, karena banyak melewatkan momen-momen yang sangat berharga di bulan Ramadhan. Saya merasa sebagai orang yang benar-benar merugi.
Lain halnya kalau Ramadhan saya lewati dengan ibadah yang premium kualitasnya, Idul Fitri menjadi sebuah kemenangan yang nyata bagi saya. Wajah saya cerah, senyum saya mengembang. Walau tanpa pakaian baru, saya merasa sebagai manusia baru, dengan semangat baru yang fully recharged. Saya bersyukur kepada Allah dan berharap semoga Ramadhan selanjutnya saya dapat mempersembahkan ibadah yang jauh lebih bekualitas.
Allahu akbar…Allahu akbar…..Allahu akbar. Laailaahaillallahulallahu akbar. Allahu akbar walilllahilkham…..
Ramadhan akhirnya benar-benar berlalu begitu cepatnya. Namun, hikmah langsung bisa kita ambil dari persitiwa ini adalah sebuah proses pembelajaran dan perubahan. Perubahan adalah ciri utama keberadaan makhluk hidup (living system). Jika makhluk hidup tidak mengalami perubahan, berarti ia mengalami kematian. Dalam Principle of Conservation of Time Passage, Rosnay (Macroscope, 1979) memaparkan, satu hal pembeda yang paling jelas antara manusia dan makhluk hidup lain adalah kemampuan mengonservasi waktu. Hal ini diartikan sebagai kemampuan memperbaiki kualitas peradaban melalui peningkatan cita nilai, kepekaan, kreativitas, dan produktivitas.
Untuk itu, diperlukan sebuah proses pembelajaran. Kegagalan melakukan pembelajaran mengakibatkan kita identik dengan manusia yang identik dengan tumbuhan (vegetative human). Bukankah kualitas kehidupan pada hewan dan tumbuhan sejak ribuan tahun silam tetap seperti sekarang, tidak mengalami perubahan yang berarti? Berbeda dengan manusia yang belajar. Ia akan kian kreatif, produktif, dan bermartabat. Produk pembelajaran inilah yang meningkatkan kualitas peradaban. Keberhasilan pembelajaran ini membuat manusia memiliki kemampuan mengonservasi waktu.
Kecenderungan untuk tidak belajar muncul ketika ‘zona kenyamanan’ berada disekitar kita, untuk itu kita dituntut untuk berani meninggalkan "zona kenyamanan" yang harus diikuti komitmen yang kuat untuk terus belajar mengubah apa yang kira-kira perlu untuk diperbaiki. Kalau kita tidak sanggup untuk berkomitmen meninggalkan zona kenyamanan, ada alternatif lain yang dapat merangsang kita untuk belajar, salah satunya cinta. Saya pernah membaca artikel yang ditulis oleh Anis Matta, didalam artikel itu ada satu kalimat yang bunyinya kira-kira begini, cinta itu indah, karena ia bekerja dalam ruang kehidupan yang luas, dan inti pekerjaannya adalah memberi. Memberi apa saja yang diperlukan oleh orang-orang yang kita cintai untuk tumbuh menjadi lebih baik dan berbahagia karenanya.
Jadi alasan apalagi yang membuat kita tidak berubah menjadi lebih baik? Mari kita buktikan kepada orang-orang tercinta, kalau kita bisa menjadi pribadi yang lebih baik, setelah mengalami proses pembelajaran tahun ini, dan bersiap menghadapi Ramadhan selanjutnya.. Semoga kita masih diberikan kesempatan untuk melakukan proses pembelajaran dan perubahan. Amin. It takes wisdom to realize you never stop learning.
Lain halnya kalau Ramadhan saya lewati dengan ibadah yang premium kualitasnya, Idul Fitri menjadi sebuah kemenangan yang nyata bagi saya. Wajah saya cerah, senyum saya mengembang. Walau tanpa pakaian baru, saya merasa sebagai manusia baru, dengan semangat baru yang fully recharged. Saya bersyukur kepada Allah dan berharap semoga Ramadhan selanjutnya saya dapat mempersembahkan ibadah yang jauh lebih bekualitas.
Allahu akbar…Allahu akbar…..Allahu akbar. Laailaahaillallahulallahu akbar. Allahu akbar walilllahilkham…..
Ramadhan akhirnya benar-benar berlalu begitu cepatnya. Namun, hikmah langsung bisa kita ambil dari persitiwa ini adalah sebuah proses pembelajaran dan perubahan. Perubahan adalah ciri utama keberadaan makhluk hidup (living system). Jika makhluk hidup tidak mengalami perubahan, berarti ia mengalami kematian. Dalam Principle of Conservation of Time Passage, Rosnay (Macroscope, 1979) memaparkan, satu hal pembeda yang paling jelas antara manusia dan makhluk hidup lain adalah kemampuan mengonservasi waktu. Hal ini diartikan sebagai kemampuan memperbaiki kualitas peradaban melalui peningkatan cita nilai, kepekaan, kreativitas, dan produktivitas.
Untuk itu, diperlukan sebuah proses pembelajaran. Kegagalan melakukan pembelajaran mengakibatkan kita identik dengan manusia yang identik dengan tumbuhan (vegetative human). Bukankah kualitas kehidupan pada hewan dan tumbuhan sejak ribuan tahun silam tetap seperti sekarang, tidak mengalami perubahan yang berarti? Berbeda dengan manusia yang belajar. Ia akan kian kreatif, produktif, dan bermartabat. Produk pembelajaran inilah yang meningkatkan kualitas peradaban. Keberhasilan pembelajaran ini membuat manusia memiliki kemampuan mengonservasi waktu.
Kecenderungan untuk tidak belajar muncul ketika ‘zona kenyamanan’ berada disekitar kita, untuk itu kita dituntut untuk berani meninggalkan "zona kenyamanan" yang harus diikuti komitmen yang kuat untuk terus belajar mengubah apa yang kira-kira perlu untuk diperbaiki. Kalau kita tidak sanggup untuk berkomitmen meninggalkan zona kenyamanan, ada alternatif lain yang dapat merangsang kita untuk belajar, salah satunya cinta. Saya pernah membaca artikel yang ditulis oleh Anis Matta, didalam artikel itu ada satu kalimat yang bunyinya kira-kira begini, cinta itu indah, karena ia bekerja dalam ruang kehidupan yang luas, dan inti pekerjaannya adalah memberi. Memberi apa saja yang diperlukan oleh orang-orang yang kita cintai untuk tumbuh menjadi lebih baik dan berbahagia karenanya.
Jadi alasan apalagi yang membuat kita tidak berubah menjadi lebih baik? Mari kita buktikan kepada orang-orang tercinta, kalau kita bisa menjadi pribadi yang lebih baik, setelah mengalami proses pembelajaran tahun ini, dan bersiap menghadapi Ramadhan selanjutnya.. Semoga kita masih diberikan kesempatan untuk melakukan proses pembelajaran dan perubahan. Amin. It takes wisdom to realize you never stop learning.
Labels: Idul Fitri, Muhasabah, perubahan

0 Comments:
Post a Comment
Subscribe to Post Comments [Atom]
<< Home