Di kampus tempat saya belajar, ujian akhir trimester ada dua jenis yang pertama disebut open question atau essay, yang kedua berbentuk pilihan ganda. Kalau kita ibaratkan dengan hidup kita di dunia, hidup terasa sangat mudah jika bentuk ujiannya berbentuk essay, kita menulis apa saja yang kita ketahui, bahkan kalau jawaban yang diberikan tidak sesuai dengan apa yang diharapkan profesor, kalau beliau baik, kita masih mendapatkan jatah nilai minimal. Lain halnya kalau kita dihadapkan pada pilihan ganda, tidak ada posisi jawaban ’antara’ yang ada hanya kepastian, kalau tidak betul ya berarti salah. Bahkan ada dosen yang lebih sadis dengan memberikan metode penilaian yang cukup unik untuk ujian pilihan ganda, kalau jawaban yang kita pilih benar, diberikanlah poin lebih, kalau jawaban kita salah, dikurangilah poin kita dari jumlah total.
Saya sadar dan paham bahwa hidup itu bisa dikategorikan sepeti ujian pilihan ganda sayangnya tidak ada kesempatan untuk melakukan ujian ulang atau her, remidi, resit, apapun jenisnya. Sekali kita memilih, resiko berhasil dan gagal ada ditangan kita, buy one get one free, atau beli satu dapat dua. Itulah pilihan hidup, memilih satu opsi, mendapat hasil pilihan itu dan resiko sebagai teman baik dari pilihan yang kita ambil.
Mendengar kata resiko, yang biasa terbayang dalam benak kita kebanyakan adalah sesuatu yang menakutkan, perubahan, tak mengenakkan, jauh dari zona nyaman, dan sekarung beras bulog XL kata lainnya yang jauh dari perbendaharan kata idaman kita.
Karena itu tak heran jika banyak orang (termasuk saya tadinya) menganggap resiko selalu bermakna negatif. Membawa keburukan, tak ada untungnya dan karena itu patut dihindari bahkan dijauhi, kalau perlu ditinggal sprint sekencang-kencangnya.
Kalau mau belajar, hidup tidak bisa dilepaskan dari resiko. Resiko menjadi bagian tak terpisahkan dari keseharian hidup kita. Contoh kecil, misal waktu kita menyetir mobil di jalan, kita beresiko kesempret kendaraan lain atau terperosok ke dalam lubang jalan. Saat kita tengah asyik menyantap makanan kesukaan, kita beresiko ketumpahan makanannya. Dan banyak contoh lainnya yang menegaskan hidup kita sangat dekat dengan resiko.
So, apakah benar resiko perlu kita hindari dan tinggal jauh-jauh?
Menurut saya tidak. Sebaliknya, kita perlu kenal baik dengan resiko. Karena dengan mampu mengenalinya secara baik, diharapkan kita dapat mengelolanya secara tepat. Kalau didalam ilmu manajemen investasi, semakin tinggi resiko yang kita ambil, semakin tinggi pula kemungkinan kita meperoleh keuntungan dari investasi yang kita putuskan.
Dan menurut saya, resiko tak selalu berarti negatif. Resiko juga punya sisi baik. Ia memacu kita untuk hidup lebih baik. Tak hanya monoton dari waktu ke waktu hanya begitu-begitu saja. Tapi ada peningkatan yang menegaskan bahwa kita di dunia ini “benar-benar hidup”. Tanpa henti berupaya meningkatkan kualitas diri dan kualitas keputusan tentunya.
Kalau dalam dunia bisnis, resiko adalah kesempatan paling baik untuk meraih sukses. Resiko mengajarkan kita untuk mengembangkan modal yang dimiliki agar semakin besar. Investasi yang kita tanam dilecut oleh resiko agar tak menciut.
Seperti saya bilang sebelumnya, kita perlu kenal baik dengan resiko, tak kenal maka tak sayang, kata teman baik saya. Agar kita bisa mengelolanya secara tepat. Untuk bisa melakukannya, ada satu jurus yang perlu kita pelajari. Simpel saja, tak rumit dan tak perlu pakai bertapa di gunung salak. Yang kita butuhkan adalah menyikapi resiko dengan cerdas.
Maksud L? (bahasa prokem teman kantor saya yang berarti ”maksud lo?” atau bahasa halusnya ”sebenarnya apakah maksud anda?”)
Prinsip gampangnya begini. Kita tinggal membandingkan antara kemungkinan hasil terburuk dengan kemungkinan hasil terbaik yang bakal kita terima. Kalau kemungkinan hasil terbaik yang kita dapat sangat menjanjikan sementara hasil terburuknya tak terlalu berat dan tidak mengancam keselamatan hidup kita, jangan tunda lagi saatnya anda ambil kesempatan itu.
Selanjutnya, untuk memperkecil resiko kegagalan biasanya saya hanya memakai jurus berdoa. Berdoalah, maka Tuhan akan memeluk doamu, begitu kata orang baik yang saya kenal. Maksudnya diluar hal logis, masih ada variabel lain yang kita tidak bisa kendalikan, dengan berdoa sungguh-sungguh, jalan yang kita lewati akan terasa indah meskipun itu sekedar jalan tikus yang tidak berpemandangan, sempit dan hanya bisa dilalui satu jalur kendaraan. Hati yang keras ini akhirnyapun dibalik hanya dengan hitungan tahun oleh Sang Maha Pembolak-Balik Hati, jalan kecil itupun akhirnya kita bisa terima dengan ikhlas dan lapang dada. Sabar, karena jalan tikus itu mungkin akan bermuara ke sebuah gerbang tol yang cukup lancar, lebar dan tanpa lubang.
Sekarang apa anda masih berpikir kalau resiko itu sesuatu yang menakutkan?
Buat saya, tidak! Resiko adalah suatu hal yang mengasyikkan dan menantang. Teman saya yang lain pernah berkata, peluklah hidupmu seperti engkau memeluk gulingmu, dari situ sayapun bisa bilang, peluklah resikomu seperti engkau memeluk kekasihmu.
Ya Allah, tetapkanlah hati ini agar tetap di jalanMu. Jakarta, 18 Juni - 3 Juli 2008.
P.S. Terima kasih atas kesediannya membantu saya untuk memilih tahun ini.
Labels: doa, Memilih, resiko
Read more!