Standing in Between - His Mind, His Soul and His Creature

{(When) motivation.(learn+think) + spirit = (+)change.continuous improvement}within 'limited,narrow,confined' framework "In the Name of Allâh, the Most Beneficent, the Most Merciful"

Name: Arifin Hudaya
Location: Rotterdam, Zuid Holland, Netherlands

Tuesday, August 19, 2008

Hug me with your eyes



This is my wish for you today: Comfort on difficult days, smiles when sadness intrudes, rainbows to follow the clouds, sunsets to warm your heart, hugs when spirits sag, beauty for your eyes to see, friendships to brighten your being, faith so that you can believe, confidence for when you doubt, courage to know yourself, patience to accept the truth, Love to complete your life.

Yes, love is missing someone whenever you're thousand miles apart, but somehow feeling warm inside because you're close in heart.


Read more!

Thursday, July 03, 2008

Pilihan itu Berupa Koma, bukan berupa Titik

Di kampus tempat saya belajar, ujian akhir trimester ada dua jenis yang pertama disebut open question atau essay, yang kedua berbentuk pilihan ganda. Kalau kita ibaratkan dengan hidup kita di dunia, hidup terasa sangat mudah jika bentuk ujiannya berbentuk essay, kita menulis apa saja yang kita ketahui, bahkan kalau jawaban yang diberikan tidak sesuai dengan apa yang diharapkan profesor, kalau beliau baik, kita masih mendapatkan jatah nilai minimal. Lain halnya kalau kita dihadapkan pada pilihan ganda, tidak ada posisi jawaban ’antara’ yang ada hanya kepastian, kalau tidak betul ya berarti salah. Bahkan ada dosen yang lebih sadis dengan memberikan metode penilaian yang cukup unik untuk ujian pilihan ganda, kalau jawaban yang kita pilih benar, diberikanlah poin lebih, kalau jawaban kita salah, dikurangilah poin kita dari jumlah total.

Saya sadar dan paham bahwa hidup itu bisa dikategorikan sepeti ujian pilihan ganda sayangnya tidak ada kesempatan untuk melakukan ujian ulang atau her, remidi, resit, apapun jenisnya. Sekali kita memilih, resiko berhasil dan gagal ada ditangan kita, buy one get one free, atau beli satu dapat dua. Itulah pilihan hidup, memilih satu opsi, mendapat hasil pilihan itu dan resiko sebagai teman baik dari pilihan yang kita ambil.

Mendengar kata resiko, yang biasa terbayang dalam benak kita kebanyakan adalah sesuatu yang menakutkan, perubahan, tak mengenakkan, jauh dari zona nyaman, dan sekarung beras bulog XL kata lainnya yang jauh dari perbendaharan kata idaman kita.
Karena itu tak heran jika banyak orang (termasuk saya tadinya) menganggap resiko selalu bermakna negatif. Membawa keburukan, tak ada untungnya dan karena itu patut dihindari bahkan dijauhi, kalau perlu ditinggal sprint sekencang-kencangnya.

Kalau mau belajar, hidup tidak bisa dilepaskan dari resiko. Resiko menjadi bagian tak terpisahkan dari keseharian hidup kita. Contoh kecil, misal waktu kita menyetir mobil di jalan, kita beresiko kesempret kendaraan lain atau terperosok ke dalam lubang jalan. Saat kita tengah asyik menyantap makanan kesukaan, kita beresiko ketumpahan makanannya. Dan banyak contoh lainnya yang menegaskan hidup kita sangat dekat dengan resiko.

So, apakah benar resiko perlu kita hindari dan tinggal jauh-jauh?

Menurut saya tidak. Sebaliknya, kita perlu kenal baik dengan resiko. Karena dengan mampu mengenalinya secara baik, diharapkan kita dapat mengelolanya secara tepat. Kalau didalam ilmu manajemen investasi, semakin tinggi resiko yang kita ambil, semakin tinggi pula kemungkinan kita meperoleh keuntungan dari investasi yang kita putuskan.

Dan menurut saya, resiko tak selalu berarti negatif. Resiko juga punya sisi baik. Ia memacu kita untuk hidup lebih baik. Tak hanya monoton dari waktu ke waktu hanya begitu-begitu saja. Tapi ada peningkatan yang menegaskan bahwa kita di dunia ini “benar-benar hidup”. Tanpa henti berupaya meningkatkan kualitas diri dan kualitas keputusan tentunya.

Kalau dalam dunia bisnis, resiko adalah kesempatan paling baik untuk meraih sukses. Resiko mengajarkan kita untuk mengembangkan modal yang dimiliki agar semakin besar. Investasi yang kita tanam dilecut oleh resiko agar tak menciut.

Seperti saya bilang sebelumnya, kita perlu kenal baik dengan resiko, tak kenal maka tak sayang, kata teman baik saya. Agar kita bisa mengelolanya secara tepat. Untuk bisa melakukannya, ada satu jurus yang perlu kita pelajari. Simpel saja, tak rumit dan tak perlu pakai bertapa di gunung salak. Yang kita butuhkan adalah menyikapi resiko dengan cerdas.

Maksud L? (bahasa prokem teman kantor saya yang berarti ”maksud lo?” atau bahasa halusnya ”sebenarnya apakah maksud anda?”)

Prinsip gampangnya begini. Kita tinggal membandingkan antara kemungkinan hasil terburuk dengan kemungkinan hasil terbaik yang bakal kita terima. Kalau kemungkinan hasil terbaik yang kita dapat sangat menjanjikan sementara hasil terburuknya tak terlalu berat dan tidak mengancam keselamatan hidup kita, jangan tunda lagi saatnya anda ambil kesempatan itu.

Selanjutnya, untuk memperkecil resiko kegagalan biasanya saya hanya memakai jurus berdoa. Berdoalah, maka Tuhan akan memeluk doamu, begitu kata orang baik yang saya kenal. Maksudnya diluar hal logis, masih ada variabel lain yang kita tidak bisa kendalikan, dengan berdoa sungguh-sungguh, jalan yang kita lewati akan terasa indah meskipun itu sekedar jalan tikus yang tidak berpemandangan, sempit dan hanya bisa dilalui satu jalur kendaraan. Hati yang keras ini akhirnyapun dibalik hanya dengan hitungan tahun oleh Sang Maha Pembolak-Balik Hati, jalan kecil itupun akhirnya kita bisa terima dengan ikhlas dan lapang dada. Sabar, karena jalan tikus itu mungkin akan bermuara ke sebuah gerbang tol yang cukup lancar, lebar dan tanpa lubang.

Sekarang apa anda masih berpikir kalau resiko itu sesuatu yang menakutkan?

Buat saya, tidak! Resiko adalah suatu hal yang mengasyikkan dan menantang. Teman saya yang lain pernah berkata, peluklah hidupmu seperti engkau memeluk gulingmu, dari situ sayapun bisa bilang, peluklah resikomu seperti engkau memeluk kekasihmu.

Ya Allah, tetapkanlah hati ini agar tetap di jalanMu.


Jakarta, 18 Juni - 3 Juli 2008.
P.S. Terima kasih atas kesediannya membantu saya untuk memilih tahun ini.

Labels: , ,


Read more!

Tuesday, July 01, 2008

When Happines Equal to Reality minus Expectations


Kata transit bisa diartikan sebagai proses singgah sementara di suatu tempat untuk kemudian melanjutkan proses perjalanan ke tempat selanjutnya sebagai tujuan akhir. Mayoritas orang menanggap dunia adalah tempat persinggahan sementara, sebelum akhirnya kembali dihadapkan kepada Pencipta kita, dan akhirnya di tempat tujuan akhir itupun kita akan diminta untuk berpresentasi mengenai keberhasilan apa saja yang sudah kita raih selama proses transit dan perjalanannya hingga menuju sebuah titik akhir.

Baru kemarin, ada seorang yang saya kenal sejak saya masih bersekolah di Taman Kanak-Kanak meninggal dunia, kaget bercampur sedih, karena ’Oom’ biasa saya memanggil almarhum dengan sebutan seperti itu pergi dengan tiba-tiba. Beliau memiliki dua anak kecil dan tinggal di komplek tempat kami tinggal. Pribadinya yang periang, terkenal dengan candanya yang kocak dan pencinta anak-anak membuat kami ’mantan anak kecil’ satu komplek perumahan menjadi sangat kehilangan. Semua orang, semua kita akan pergi meninggalkan dunia, tidak perduli apakah dia kaya atau miskin, berpendidikan atau tidak, punya jabatan dan nama yang masyhur atau bukan. Hidup ternyata terlalu singkat, walau terkadang kita merasakannya terlalu panjang.

Pada hari yang sama, teman bermain saya dulu yang tak lain adalah tetangga samping rumah, melangsungkan pernikahannya. Berbagai acara hiburan dibatalkan sebagai wujud sikap toleransi atas tetangga yang baru meninggal itu. Para undangan yang sebagian besar adalah para tetangga yang pagi harinya bersedih, harus berusaha untuk tetap bahagia sebagai bentuk penghormatan dan doa kepada pengantin baru.

Menjaga perasaan dan membawa diri menjadi inti dari pelajaran saya pada hari itu, bersedih hati diatas kesenangan orang lain itu tidak baik sedangkan bersenang-senang diatas kesedihan orang lain itu lebih tidak baik lagi.

Sedih dan senang itu hanya masalah waktu selama proses transit atau proses selama kita hidup. Life is a game of feeling! Begitu kata seorang filsuf Perancis. Hidup adalah sebuah permainan perasaan, sedih dan senang datang bergantian. Tidak mungkin seseorang mengalami kesedihan terus menerus dan senang berkepanjangan. Keduanya memiliki nomor antrian masing-masing, dan kita sebagai seorang teller harus melayani keduanya dengan report baik dan seadil-adilnya.
Jika Ahmad Albar menyanyikan Dunia adalah Panggung Sandiwara, itu lebih karena penghuni dunia yang memilih berperan untuk bersandiwara atau berpura-pura. Sementara hidup adalah sebuah permainan perasaan, lebih kepada sebuah keadaan yang terjadi pada setiap orang, dan ini bukan sebuah pilihan akting. Seseorang mungkin bisa berakting senang tetapi perasaannya menderita dan sebagainya. Tapi seseorang tidak bisa menipu perasaannya sendiri.

Peristiwa baik atau buruk adalah kenyataan hidup yang tak dapat ditolak. Seribu kebaikan yang kita lakukan, terasa hampir tak berbekas, dan alangkah mudahnya dilupakan orang. Namun satu saja kesalahan yang mungkin telah kita buat, akan dihujat setiap hari. Mungkin pula kesalahan itu akan diingat orang sepanjang masa. Lebih jauh lagi saat ini kita sedang hidup di alam penuh kebebasan berekspresi dan kebebasan menyatakan pikiran dan pendapat. Kita tengah hidup di alam demokrasi dengan segala macam tingkat pemahaman dan penafsirannya.

Jika demikian, haruskah saya berhenti berniat dan beriktikad baik dan berbuat baik di proses transit? Saya pikir tidak. Seringkali orang tidak menyadari kebaikan dan juga kebenaran. Mereka baru menyadarinya jauh di belakang hari. Bahkan terasa sudah begitu terlambat. Kebaikan tetaplah kita lakukan demi kebaikan itu sendiri, agar kita ikhlas dalam beramal dan batin kita merasa terpuaskan. Kepuasan batin itu hal penting, walau kenyataan hidup seringkali terasa menyakitkan. Kalau kita banyak berbuat baik kepada orang lain, lebih baik kita melupakannya. Tetapi kalau orang lain berbuat baik kepada kita, wajiblah kita terus mengingat-ingatnya. Sudah siapkah kita?

Labels: , ,


Read more!

Tuesday, June 10, 2008

Ketika Belanda harus Berjiwa Besar

Kemenangan pertama Belanda di ajang piala Eropa 2008 memang bisa dibilang cukup fantastis. Saya pun ikut senang, karena tim favorit kali ini mendulang kemenangan telak atas tim kuat. Italia yang diatas kertas memiliki predikat peraih Juara Dunia tampil tidak konsisten sepanjang permainan. Kali ini, saya sedang tidak tertarik membahas kemenangan Belanda lebih jauh lagi, selain bukan pakar sepak bola yang pantas memberikan komentar terhadap jalannya pertandingan, saya ingin menjadi bagian fans Italia yang merasakan timnya dipecundangi oleh tim Belanda, si kuda hitam.

Saya menjadi fans Belanda semata-mata karena diberi kesempatan tinggal di Belanda, tidak lebih dari itu, disisi lain, Belanda juga baru saja lolos masuk ke putaran Piala Eropa tahun ini setelah sebelumnya mereka gagal untuk lepas dari jerat penyisihan babak final di kesempatan terdahulu.

Saya mengamati, sebuah kekalahan dan kemenangan itu tipis perbedaannya. Menang hari ini, kalah esok hari, atau bisa juga sebaliknya, bahkan bisa juga tidak dalam hitungan hari, kekalahan yang disertai kemenangan atau sebaliknya bisa berjarak hanya 1 (satu) menit! Intinya kedua peristiwa itu sifatnya bergantian dan tidak absolut.

Seperti dalam cerita sepakbola diatas, kadangkala terjadinya kemenangan dan kekalahan tidak bisa diprediksikan dengan perhitungan matematika ataupun statistik, contohnya saja Belanda, menurut data statistik, setiap pertemuannya dengan Italia, Belanda jadi sulit sekali untuk menang. Tapi hari ini? Dengan skor babak akhir 3-0, saya yakin, tidak banyak yang memprediksi hasil akhir seperti ini, kalaupun ada, sebagian besar berkeyakinan Italia yang mencetak gol-gol tersebut.

Kemenangan memang sebaiknya dirayakan dengan sederhana, saya sangat kagum dengan gaya sederhana Lukas Podolski ketika dua kali melesakkan bola ke gawang Polandia kemarin, kesederhanaan dalam merayakan even kemenangan berimbas pada bertambah kuatnya pertahanan kita jikalau kekalahan melanda. Bukan saja kekalahan yang harus diterima dengan jiwa besar dan lapang dada, hal ini sebaiknyapun diaplikasikan dalam menghadapi kemenangan. Kenapa? Jiwa besar biasanya diikuti dengan sikap sabar, sabar akan kemenangan akan memacu kita untuk menjaga perasaan lawan, outpunya kebencian satu dengan yang lain bisa diminimalisir, kompetisi menjadi lebih menarik karena adanya persaingan positif, lebih jauh lagi hidup tentunya akan menjadi lebih indah.

Dengan berjiwa besar even kemenangan tidak akan ditunjukkan dengan berbangga hati. Orang yang menerima kemenangan dengan berjiwa besar akan memikirkan lawannya yang sedang kalah, berusaha mensupport lawan agar terus berusaha mengejar ketinggalan.

Bukankan kita tidak akan pernah merasakan kemenangan yang sebenar-benarnya jika tidak pernah merasakan suatu kekalahan? Kemenangan itu semu, jika tidak diawali dengan suatu proses pembelajaran dari peristiwa kekalahan.

Rotterdam, Selasa dini hari.
Saya, yang sedang belajar dari suatu peristiwa 'kekalahan' pada weekend yang lalu.


Read more!

Thursday, May 01, 2008

Het Oranje Gevoel


Read more!

Friday, April 25, 2008

Tips Memilih Furniture

Jika anda ingin mempercantik ruangan rumah anda, pilihan furniture bisa jadi strategi jitu untuk melakukannya. tidak perlu rumah yang megah dengan aksesoris berlebihan untuk menghadirkan suasana segar, nyaman dan cantik kedalam ruangan. Asalkan tahu cara memilih dan menyiasatinya, rumah anda pasti terlihat indah dan menyenangkan.

Pilih yang terbaik
Pastikan furniture yang anda pilih, memiliki tiga kriteria utama: kualitas, kenyamanan dan model yang tahan lama. Jangan pernah melupakan salah satu dari ketiga kriteria ini.

Perpaduan lama dan baru
Tidak perlu takut memadupadankan futniture lana anda dengan yang baru. Asal pilihan furniture baru anda tepat, maka perpaduannya akan semain baik. Interior rumah anda pun terlihat lebih unik. Nah, untuk menghindari kesalahan dalam memilih futniture, ada baiknya anda membawa foto ruangan dan furniture lama anda, saat membeli atau memilih furniture baru.

Pilihan warna
Jangan lupa untuk memberikan perhatian lebih pada warna furniture pilihan anda. Sesuaikanlah warna-warna furniture tersebut dengan kepribadian dan suasana rumah anda. misalnya, anda bisa memilih warna-warna hangat dan lembut seperti putih dan cokelat untuk menghadirkan suasana yang nyaman, sejuk dan romantis.

Buku dan majalah referensi
Selalu update pengetahuan anda tentang penampilan rumah dengan melihat terlebih dahulu referensi buku atau majalah desain khusus interior.
Bebaskan kreativitas anda
Anda bahkan bisa lebih bereksperimen dengan menghadirkan beberapa unsur kedalam ruangan rumah anda. Misalnya, menggunakan bambu untuk gantungan handuk, majalah atau tempat memajang koleksi kain kesayangan dan cermin sengan desain unik untuk ditempatkan dibeberapa tempat-tempat strategis dalam ruangan. Selain dapat menciptakan efek lebih lebar untuk ruangan kecil, benda-benda ini juga dapat memberikan efek lebih terang dan segar kedalam ruangan anda.

Jangan berlebihan
Jangan pernah memberikan hiasan atau pencahayaan yang berlebih kedalam rumah anda. Selain dapat merusak suasana ruangan, pencahayaan alami akan tampak terlihat lebih bagus dibandingkan cahaya buatan dari sinar lampu.
Dengan strategi dan kreativitas tinggi yang disesuaikan dengan kondisi ruangan, anda bisa merubah suasana ruangan anda jadi lebih fresh, baru dan menyenangkan.

sumber : Citibank EasyPay Catalog

"There's nothing half so pleasant as coming home again, home is not where we live, but where they understand us”

P.S Selamat bereksperimen ya!

Labels: , ,


Read more!

Monday, April 14, 2008

Pemilihan Khusus

Sekedar memisalkan saja, kalau anda tergolong orang yang extrovert, anda mungkin merasa perlu untuk membagi informasi dengan jalan bercerita, sharing, bertukar pikiran atau apalah tentang sesuatu yang anda alami kepada orang lain. Masalahnya, seringkali kita tidak mem-filter kepada siapa kita berbagi cerita. Apalagi jika orang tersebut kemudian membagikan lagi kisah anda ke orang-orang lain. Lalu sebenarnya dimana letak masalahnya?

Ada beberapa poin yang bisa dilihat secara umum, ingat, secara umum. Pertama, manusia memiliki kecenderungan untuk mengkritik daripada membangun. Saya tidak berasumsi atau lebih jauh lagi, menghakimi bahwa semua orang seperti itu. The point is, saya hanya ingin mengatakan bahwa mereka yang kita ajak berbagi kadangkala tidak menyadari bahwa kita sebenarnya hanya ingin didengarkan, itu saja. Namun lebih dari itu, mereka berbaik hati memberikan 'ide-ide cemerlang' yang celakanya seringkali berupa kritik yang sebenarnya sudah kita ketahui sendiri. Jangan salah, hal itu bukan berarti kita harus menjadi orang yang anti terhadap kritik.

Tapi untuk seseorang yang sedang dilanda duka, kepanikan, kesedihan dan kawan-kawannya, kritik menjadi lebih seperti tikaman-tikaman kecil. Apa negatifnya? Emosi yang sudah kita bersihkan di-refill kembali dengan penghakiman yang akan memperkuat perasaan bahwa kita telah membuat segala sesuatunya menjadi berantakan. Oh No!

Lantas, apa untungnya kalau hal itu hanya menambah rasa bersalah dan meredupkan semangat? Makin banyak orang yang kita ajak berbagi, makin menumpuk pula rasa bersalah tersebut dan makin sulit mengobarkan kembali semangat kita.

Kedua, kita tidak akan ber-marketing tanpa endorser bukan? Dengan kata lain mengiklankan kekurangan sebuah produk kepada customer? Saya yakin, tidak akan ada. Semakin banyak orang yang mengetahui tentang kegagalan kita, apakah citra yang kita miliki akan menjadi lebih baik? Apakah dengan makin banyaknya orang yang merasa iba terhadap diri kita akan membuat persepsi orang menjadi lebih baik? Saya meragukan hal itu, karena ketika citra menjadi kurang baik, bukankah akan lebih sulit untuk kembali ke lingkungan sosial? Logisnya, semangat akan menjadi semakin surut? Nah, Jika semangat sudah surut, bukankah peluang untuk survive makin kecil?

Lalu apakah berarti kita tidak boleh mengungkapkan sesuatu hal, perasaan, kondisi keterpurukan kita kepada seseorang? Menurut saya, boleh dan sah-sah saja, tapi tidak berarti kemudian satu kecamatan tahu semua mengenai kisah kita. Lagi-lagi, apa untungnya? Pilih seseorang yang secara pribadi dekat dengan kita dan bisa menjadi tempat untuk berbagi sekaligus mampu mendukung dan membangkitkan semangat. Bahkan lebih dari itu, orang ini diharapkan bisa menjadi ‘guru spiritual’, tempat untuk berkonsultasi, meminta second opinion dalam menentukan langkah-langkah anda.

Life is a choice, choose it wisely! Untuk itu penting sekali memilih dengan tepat, teliti dan seksama, bahkan kalau perlu dengan tempo yang tidak sesingkat-singkatnya kepada siapa kita harus berbagi. Mark Twain pun setuju dengan mengatakan : “Keep away from people who try to belittle your ambitions. Small people always do that, but the really great make you feel that you, too, can become great.” Hindarilah mereka yang mencoba untuk mengecilkan ambisi kita. Orang-orang yang ‘kerdil’ selalu melakukannya, tapi orang-orang hebat akan membuat anda merasa bahwa anda juga bisa menjadi hebat seperti mereka.

Saya sendiri sudah memiliki orang yang saya anggap tepat untuk berbagi. Satu hal lagi, kadang dalam proses memilih itu hal-hal menarik akan terjadi diluar logika anda.

Apakah anda sudah memiliki orang yang tepat? Kalau belum, tetap semangat untuk mencari!


Read more!