When Happines Equal to Reality minus Expectations
Kata transit bisa diartikan sebagai proses singgah sementara di suatu tempat untuk kemudian melanjutkan proses perjalanan ke tempat selanjutnya sebagai tujuan akhir. Mayoritas orang menanggap dunia adalah tempat persinggahan sementara, sebelum akhirnya kembali dihadapkan kepada Pencipta kita, dan akhirnya di tempat tujuan akhir itupun kita akan diminta untuk berpresentasi mengenai keberhasilan apa saja yang sudah kita raih selama proses transit dan perjalanannya hingga menuju sebuah titik akhir.
Baru kemarin, ada seorang yang saya kenal sejak saya masih bersekolah di Taman Kanak-Kanak meninggal dunia, kaget bercampur sedih, karena ’Oom’ biasa saya memanggil almarhum dengan sebutan seperti itu pergi dengan tiba-tiba. Beliau memiliki dua anak kecil dan tinggal di komplek tempat kami tinggal. Pribadinya yang periang, terkenal dengan candanya yang kocak dan pencinta anak-anak membuat kami ’mantan anak kecil’ satu komplek perumahan menjadi sangat kehilangan. Semua orang, semua kita akan pergi meninggalkan dunia, tidak perduli apakah dia kaya atau miskin, berpendidikan atau tidak, punya jabatan dan nama yang masyhur atau bukan. Hidup ternyata terlalu singkat, walau terkadang kita merasakannya terlalu panjang.
Pada hari yang sama, teman bermain saya dulu yang tak lain adalah tetangga samping rumah, melangsungkan pernikahannya. Berbagai acara hiburan dibatalkan sebagai wujud sikap toleransi atas tetangga yang baru meninggal itu. Para undangan yang sebagian besar adalah para tetangga yang pagi harinya bersedih, harus berusaha untuk tetap bahagia sebagai bentuk penghormatan dan doa kepada pengantin baru.
Menjaga perasaan dan membawa diri menjadi inti dari pelajaran saya pada hari itu, bersedih hati diatas kesenangan orang lain itu tidak baik sedangkan bersenang-senang diatas kesedihan orang lain itu lebih tidak baik lagi.
Sedih dan senang itu hanya masalah waktu selama proses transit atau proses selama kita hidup. Life is a game of feeling! Begitu kata seorang filsuf Perancis. Hidup adalah sebuah permainan perasaan, sedih dan senang datang bergantian. Tidak mungkin seseorang mengalami kesedihan terus menerus dan senang berkepanjangan. Keduanya memiliki nomor antrian masing-masing, dan kita sebagai seorang teller harus melayani keduanya dengan report baik dan seadil-adilnya.
Jika Ahmad Albar menyanyikan Dunia adalah Panggung Sandiwara, itu lebih karena penghuni dunia yang memilih berperan untuk bersandiwara atau berpura-pura. Sementara hidup adalah sebuah permainan perasaan, lebih kepada sebuah keadaan yang terjadi pada setiap orang, dan ini bukan sebuah pilihan akting. Seseorang mungkin bisa berakting senang tetapi perasaannya menderita dan sebagainya. Tapi seseorang tidak bisa menipu perasaannya sendiri.
Peristiwa baik atau buruk adalah kenyataan hidup yang tak dapat ditolak. Seribu kebaikan yang kita lakukan, terasa hampir tak berbekas, dan alangkah mudahnya dilupakan orang. Namun satu saja kesalahan yang mungkin telah kita buat, akan dihujat setiap hari. Mungkin pula kesalahan itu akan diingat orang sepanjang masa. Lebih jauh lagi saat ini kita sedang hidup di alam penuh kebebasan berekspresi dan kebebasan menyatakan pikiran dan pendapat. Kita tengah hidup di alam demokrasi dengan segala macam tingkat pemahaman dan penafsirannya.
Jika demikian, haruskah saya berhenti berniat dan beriktikad baik dan berbuat baik di proses transit? Saya pikir tidak. Seringkali orang tidak menyadari kebaikan dan juga kebenaran. Mereka baru menyadarinya jauh di belakang hari. Bahkan terasa sudah begitu terlambat. Kebaikan tetaplah kita lakukan demi kebaikan itu sendiri, agar kita ikhlas dalam beramal dan batin kita merasa terpuaskan. Kepuasan batin itu hal penting, walau kenyataan hidup seringkali terasa menyakitkan. Kalau kita banyak berbuat baik kepada orang lain, lebih baik kita melupakannya. Tetapi kalau orang lain berbuat baik kepada kita, wajiblah kita terus mengingat-ingatnya. Sudah siapkah kita?

0 Comments:
Post a Comment
Subscribe to Post Comments [Atom]
<< Home