Ketika Belanda harus Berjiwa Besar
Kemenangan pertama Belanda di ajang piala Eropa 2008 memang bisa dibilang cukup fantastis. Saya pun ikut senang, karena tim favorit kali ini mendulang kemenangan telak atas tim kuat. Italia yang diatas kertas memiliki predikat peraih Juara Dunia tampil tidak konsisten sepanjang permainan. Kali ini, saya sedang tidak tertarik membahas kemenangan Belanda lebih jauh lagi, selain bukan pakar sepak bola yang pantas memberikan komentar terhadap jalannya pertandingan, saya ingin menjadi bagian fans Italia yang merasakan timnya dipecundangi oleh tim Belanda, si kuda hitam.
Saya menjadi fans Belanda semata-mata karena diberi kesempatan tinggal di Belanda, tidak lebih dari itu, disisi lain, Belanda juga baru saja lolos masuk ke putaran Piala Eropa tahun ini setelah sebelumnya mereka gagal untuk lepas dari jerat penyisihan babak final di kesempatan terdahulu.
Saya mengamati, sebuah kekalahan dan kemenangan itu tipis perbedaannya. Menang hari ini, kalah esok hari, atau bisa juga sebaliknya, bahkan bisa juga tidak dalam hitungan hari, kekalahan yang disertai kemenangan atau sebaliknya bisa berjarak hanya 1 (satu) menit! Intinya kedua peristiwa itu sifatnya bergantian dan tidak absolut.
Seperti dalam cerita sepakbola diatas, kadangkala terjadinya kemenangan dan kekalahan tidak bisa diprediksikan dengan perhitungan matematika ataupun statistik, contohnya saja Belanda, menurut data statistik, setiap pertemuannya dengan Italia, Belanda jadi sulit sekali untuk menang. Tapi hari ini? Dengan skor babak akhir 3-0, saya yakin, tidak banyak yang memprediksi hasil akhir seperti ini, kalaupun ada, sebagian besar berkeyakinan Italia yang mencetak gol-gol tersebut.
Kemenangan memang sebaiknya dirayakan dengan sederhana, saya sangat kagum dengan gaya sederhana Lukas Podolski ketika dua kali melesakkan bola ke gawang Polandia kemarin, kesederhanaan dalam merayakan even kemenangan berimbas pada bertambah kuatnya pertahanan kita jikalau kekalahan melanda. Bukan saja kekalahan yang harus diterima dengan jiwa besar dan lapang dada, hal ini sebaiknyapun diaplikasikan dalam menghadapi kemenangan. Kenapa? Jiwa besar biasanya diikuti dengan sikap sabar, sabar akan kemenangan akan memacu kita untuk menjaga perasaan lawan, outpunya kebencian satu dengan yang lain bisa diminimalisir, kompetisi menjadi lebih menarik karena adanya persaingan positif, lebih jauh lagi hidup tentunya akan menjadi lebih indah.
Dengan berjiwa besar even kemenangan tidak akan ditunjukkan dengan berbangga hati. Orang yang menerima kemenangan dengan berjiwa besar akan memikirkan lawannya yang sedang kalah, berusaha mensupport lawan agar terus berusaha mengejar ketinggalan.
Bukankan kita tidak akan pernah merasakan kemenangan yang sebenar-benarnya jika tidak pernah merasakan suatu kekalahan? Kemenangan itu semu, jika tidak diawali dengan suatu proses pembelajaran dari peristiwa kekalahan.
Rotterdam, Selasa dini hari.
Saya, yang sedang belajar dari suatu peristiwa 'kekalahan' pada weekend yang lalu.
Saya menjadi fans Belanda semata-mata karena diberi kesempatan tinggal di Belanda, tidak lebih dari itu, disisi lain, Belanda juga baru saja lolos masuk ke putaran Piala Eropa tahun ini setelah sebelumnya mereka gagal untuk lepas dari jerat penyisihan babak final di kesempatan terdahulu.
Saya mengamati, sebuah kekalahan dan kemenangan itu tipis perbedaannya. Menang hari ini, kalah esok hari, atau bisa juga sebaliknya, bahkan bisa juga tidak dalam hitungan hari, kekalahan yang disertai kemenangan atau sebaliknya bisa berjarak hanya 1 (satu) menit! Intinya kedua peristiwa itu sifatnya bergantian dan tidak absolut.
Seperti dalam cerita sepakbola diatas, kadangkala terjadinya kemenangan dan kekalahan tidak bisa diprediksikan dengan perhitungan matematika ataupun statistik, contohnya saja Belanda, menurut data statistik, setiap pertemuannya dengan Italia, Belanda jadi sulit sekali untuk menang. Tapi hari ini? Dengan skor babak akhir 3-0, saya yakin, tidak banyak yang memprediksi hasil akhir seperti ini, kalaupun ada, sebagian besar berkeyakinan Italia yang mencetak gol-gol tersebut.
Kemenangan memang sebaiknya dirayakan dengan sederhana, saya sangat kagum dengan gaya sederhana Lukas Podolski ketika dua kali melesakkan bola ke gawang Polandia kemarin, kesederhanaan dalam merayakan even kemenangan berimbas pada bertambah kuatnya pertahanan kita jikalau kekalahan melanda. Bukan saja kekalahan yang harus diterima dengan jiwa besar dan lapang dada, hal ini sebaiknyapun diaplikasikan dalam menghadapi kemenangan. Kenapa? Jiwa besar biasanya diikuti dengan sikap sabar, sabar akan kemenangan akan memacu kita untuk menjaga perasaan lawan, outpunya kebencian satu dengan yang lain bisa diminimalisir, kompetisi menjadi lebih menarik karena adanya persaingan positif, lebih jauh lagi hidup tentunya akan menjadi lebih indah.
Dengan berjiwa besar even kemenangan tidak akan ditunjukkan dengan berbangga hati. Orang yang menerima kemenangan dengan berjiwa besar akan memikirkan lawannya yang sedang kalah, berusaha mensupport lawan agar terus berusaha mengejar ketinggalan.
Bukankan kita tidak akan pernah merasakan kemenangan yang sebenar-benarnya jika tidak pernah merasakan suatu kekalahan? Kemenangan itu semu, jika tidak diawali dengan suatu proses pembelajaran dari peristiwa kekalahan.
Rotterdam, Selasa dini hari.
Saya, yang sedang belajar dari suatu peristiwa 'kekalahan' pada weekend yang lalu.

0 Comments:
Post a Comment
Subscribe to Post Comments [Atom]
<< Home