Profiling
Begitu Sarah Palin diumumkan secara resmi sebagai pendamping, pamor John McCain (calon Presiden AS dari Partai Konservatif) yang sebelumnya sedikit terbayang-bayangi oleh rivalnya Barrack Obama langsung bersinar.
Biasa, wanita cantik selalu menarik perhatian. Apalagi kalau cerdas. Sebab cerdas itu, maaf, adalah bagian dari citra maskulinitas. Buktinya, lihatlah sinetron-sinetron kita. Bukankah tokoh antagonis sering kali diwujudkan oleh tokoh istri yang nyinyir dan tokoh yang bijak (hampir) selalu suaminya? Citra perempuan adalah sosok yang lembut, penyabar dan mengalah. Di AS, negara yang kesetaraan gendernya terkesan jauh lebih maju pun, belum pernah seorang perempuan menjadi wakil presiden, apalagi presiden. Maka seorang Sarah Palin, yang pelari marathon dan terbiasa hidup di alam terbuka (konon ia pemburu yang cekatan menguliti sendiri hewan hasil buruannya), tapi ia tetap tampil cantik dan cerdas, tanpa meninggalkan nilai-nilai tradisional seperti pro keluarga, antiaborsi, menohok konsep citra perempuan yang terlanjur terpateri. Barangkali itu kunci daya tariknya.
Kelihatannya pisau analisis kita terhadap siapa pun, senantiasa terbungkus oleh konsep citra. Tak terkecuali citra diri. Contoh saja, ketika kunci masalahnnya terletak pada kekurangan fisik, pemecahannya bisa langsung dan cespleng. Teknologi bedah plastic menjadi solusinya.
Citra, imej sepertinya makin jadi komoditi. Seperti sepatu ia bisa dipoles agar lebih mengkilap. Mudah-mudahan kita tidak lupa bahwa jati diri sesungguhnya ada di dalam hati, dan citra itu mestinya cerminan yang ada di dalam.
Biasa, wanita cantik selalu menarik perhatian. Apalagi kalau cerdas. Sebab cerdas itu, maaf, adalah bagian dari citra maskulinitas. Buktinya, lihatlah sinetron-sinetron kita. Bukankah tokoh antagonis sering kali diwujudkan oleh tokoh istri yang nyinyir dan tokoh yang bijak (hampir) selalu suaminya? Citra perempuan adalah sosok yang lembut, penyabar dan mengalah. Di AS, negara yang kesetaraan gendernya terkesan jauh lebih maju pun, belum pernah seorang perempuan menjadi wakil presiden, apalagi presiden. Maka seorang Sarah Palin, yang pelari marathon dan terbiasa hidup di alam terbuka (konon ia pemburu yang cekatan menguliti sendiri hewan hasil buruannya), tapi ia tetap tampil cantik dan cerdas, tanpa meninggalkan nilai-nilai tradisional seperti pro keluarga, antiaborsi, menohok konsep citra perempuan yang terlanjur terpateri. Barangkali itu kunci daya tariknya.
Kelihatannya pisau analisis kita terhadap siapa pun, senantiasa terbungkus oleh konsep citra. Tak terkecuali citra diri. Contoh saja, ketika kunci masalahnnya terletak pada kekurangan fisik, pemecahannya bisa langsung dan cespleng. Teknologi bedah plastic menjadi solusinya.
Citra, imej sepertinya makin jadi komoditi. Seperti sepatu ia bisa dipoles agar lebih mengkilap. Mudah-mudahan kita tidak lupa bahwa jati diri sesungguhnya ada di dalam hati, dan citra itu mestinya cerminan yang ada di dalam.

0 Comments:
Post a Comment
Subscribe to Post Comments [Atom]
<< Home